Wednesday, May 10, 2006

Masukan Buat Renstra FKM UI (2)

Menghapus Jurusan S1 FKM
Ide menghapuskan S1, menurut saya, bukan ide innovatif, karena permasalahannya buka disitu. Tidak tepat rasanya alasan menghapuskan sebuah fakultas karena di negara lain tidak ada. Histori dan kebutuhannya sangat berbeda. History LSHTM, misalnya, didirikan karena kebutuhan untuk memuluskan proses penjajahan di negera negara tropis. Banyak sekali penyakit-penyakit di dearah tropis membuat bangsa penjajah kelabakan. Untuk memahami lebih dalam dan mengobatinya, maka didirikan LHSTM. Alasan yang serupa dengan pendidirian banyak school of public health (tropical medicine) di beberapa negara lainnya. Sedangkan di Indonesia, kalau kita cermati sejarahnya sangat lain.

Diakui atau tidak, masalah kesehatan tidak bisa diselesaikan oleh sarjana kedokteran saja. Kesehatan begitu komplek. Bahkan kalau ada teori (McKeown) yang mengatakan bahwa penurunan angka kematian pada abad 19an, bukan karena medical care, namun karena improving standard of living and nutrition. SKM S1 di Indonesia, didirikan menyadari hal itu. Dengan banyaknya kader-kader public health, status derajat kesehatan di Indonesia bisa lebih baik. Ada yang berkiprah di clinical (dr), ada di manajemen, perencanaan dan lain-lain. Health system begitu komplek, menyagkut aspek social, ekonomic, politik dan teknik medis. Sunggu terlalu berat bila hanya mengandalkan dari sarjana kedokteran saja. Secara singkat, saya masih berpendapat, S1 SKM masih sangat perlu. Disamping itu, perjalanan hidup anak manusia yang namanya SKM itu masih sangat muda. Tidak heran, kadang kala sikap darah mudanya begitu kental. Itu wajar dalam proses mencari jati diri.

FKM sebagai orang tuanya si SKM. Sekarang lagi mempelajari, menganalisa kelemahan agar bisa ditingkatkan, memprediksi ancamana agar bisa dijadikan peluang. Untuk itu saya sekali lagi terdorong untuk memberikan masukan.
FKM ke depan harus lebih fokus dengan jurusan. Ketika sesorang belajar dijurusan tertentu, idealnya, bagaimana institusi mengodok, mengembleng, agar setelah dia lulus, punya pengetahuan dan keahlian yang membuat lulusan bangga dan lebih percaya diri, karena dia yakin, dia punya sesuatu yang bisa dia jual ke pasar kerja. Sekarang ini saya mengamati, belum mengarah kesitu. Tidak tepat lagi membela diri dengan alasan ”S1 itu kan generalis”. Konsep generalis itu sangat multi dimensi dan multi interpretasi.

Lebih konkrit, pemikiran saya, bagaimana ke depan, FKM, mengembangkan jurusan, basis-nya adalah jurusan, bukan FKM secara umum. Mata kuliah per jurusan harus jelas arah dan tingkat kemampuan dan skil yang akan dikuasai oleh mahasiswa setelah keluar dari situ. Memang ini, memerlukan renovasi dan kerja keras perubahan besar dalam banyak hal termasuk kurikulum. Dengan demikian ke depan, produk jualan bukan lagi FKM, tapi jurusan dan skill. Ke depan FKM idealnya seperti teknik, yang dia jual adalah jurusannya, bukan tekniknya. Semenjak mahasiswa mendaftarkan diri di UMPTN, calon mahasiswa sudah tahu jurusan apa yang akan dipilih. Tiga lima tahun ke depan, kita bisa melihat jurusan mana yang perlu dikembangkan dan mana yang harus ditutup. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan, itu hukum alam, mekanisme pasar belaka. Di Inggris, belakangan ini, beberapa jurusan teknik, di sebuah university ditutup karena karena kurang permintaan. Tentu dalam renstra, konsekuensi-2 tersebut sudah dipikirkan.

“Yang jelas, kita menyusun Renstra karena kita mau melakukan perubahan. Untuk itu jangan takut melakukan perubahan”.

Mudah-mudahan bermanfaat.


London,
Wednesday, May 10, 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home